Selama seminggu berikutnya, tak ada lain yang bisa kupikirkan selain reuni.
Salahkah kalau aku pergi nanti? Bagaimanakah jika Sarah muncul? Masihkah dia merasa tersakiti olehku? Akankah dia ingat aku?
Malam sebelum acara reuni aku tak bisa tidur. Aku tergoda untuk membatalkan kedatangan untuk acara reuni itu besok.
Bodoh betul, pikirku.
Yang sudah berlalu biarlah berlalu.
Keesokan harinya pukul lima sore, aku berganti baju tiga kali sebelum akhirnya memutuskan setelan jas mana yang akan kupakai dalam acara reuni itu. Aku memilih setelan jas berwarna abu-abu muda dengan potongan yang sangat pas dengan tubuhku, sederhana tapi tetap gaya.
Ketika memasuki aula Harapan Persada Area High School yang didekorasi meriah, aku berada dalam rumunan 150 orang asing yang serasa kukenal. Beberapa mantan teman sekelasku malah sama sekali tak bisa kukenali, yang lain hanya berubah sedikit. Aku mencari satu orang: Sarah.
Apakah ia sudah banyak berubah? Ikutkah pasangan barunya? Orang-orang mendekatiku.
“Yunus, aku Ragil Purnomo. Kau keren sekali bro!”
“Terimakasih. Kau juga, Ragil.”
“Kenalkan, pacarku….”
“Yunus, kau Yunus, kan?”
“Ya. Hmm…”
“Prita. Prita Anggraeni. Ingat aku?”
“Oh ya..” Pakaiannya buruk dan ia kelihatan salah tingkah.”
“Apa kabar , Prit?”
“Yah, kau tahu kan, keluargaku berantakan setelah ayahku masuk penjara karena kasus korupsi.”
“Sabar ya. Aku ikut prihatin.”
“Yeah. Akhirnya aku berhenti kuliah. Dan sekarang aku bekerja sebagai pelayan restoran.”
“Yunus! Aku Fransiska. Astaga, kau tambah keren ya!”
“Terima kasih, Siska.” Wanita itu sudah bertambah gemuk dan memakai cincin berlian besar di jari tengahnya.
“Aku bisnis property sekarang. Kau sudah menikah?”
Aku ragu-ragu. “Belum.”
“Ingat Rudi Subagya? Kakak kelas mantan ketua OSIS. Kami menikah,dan sudah dikaruniai seorang putri.”
“Wah,selamat ya…”
Sungguh mengherankan betapa orang bisa berubah dalam sepuluh tahun. Ada yang jadi gemuk dan ada yang jadi kurus… kaya raya dan miskin. Menikah dan cerai.. jadi orangtua dan kehilangan orangtua.
Waktu berjalan terus. Acara dilanjutkan dengan makan malam, musik, dan dansa. Aku ngobrol dengan mantan teman-teman sekelasku dan mendengarkan kisah hidup mereka, tapi pikiranku dipenuhi Sarah. Ia masih belum kelihatan batang hidungnya.
Dia takkan datang. Aku memutuskan.
Dia pasti tahu aku akan ada di sini dan dia tak mau melihatku lagi.
Seorang wanita berwajah cantik mendekatiku.
“Yunus! Aku sangat berharap bisa bertemu kau di sini.”
Ia G.Maeyana. Aku benar-benar senang bertemu denganya. G.Maeyana dulu salah satu teman dekatku. Kami duduk di meja kosong di sudut,untuk mengobrol.
“Kau tambah cantik, Maya,” Kata ku.
“Kau juga tambah keren. Sori aku telat. Bayiku sedang kurang sehat. Sejak terakhir kita ketemu aku sudah menikah dan cerai. Sekarang aku lagi pacaran dengan bos tempat aku bekerja. Bagaimana denganmu? Setelah pesta perpisahan dulu, kau menghilang. Aku pernah beberapa kali mencoba mencarimu, tapi yang ku dengar kau ada di China.”
“Aku ke Nanjing ,” kataku. “Ayahku mendaftarkanku di sekolah bahasa Mandarin di sana. Kami berangkat pagi setelah pesta perpisahan itu.”
“Aku mencoba segala cara untuk menghubungimu. Para polisi itu mengira aku tahu kau di mana. Mereka mencarimu sebab kau dan Sarah kan pacaran.”
Aku berkata pelan, “Polisi?”
“Ya. Yang menyelidiki kematian Sarah.”
Aku merasa wajahku tidak dialiri darah lagi.
“Kematian Sarah?”
Maya bengong menatapnya. “Ya Tuhan! Kau tak tahu itu?”
“Tahu apa?” Aku ngotot. “Kau ini ngomong apa?”
“Sehari setelah pesta perpisahan itu, otangtua Sarah pulang dan menemukan mayat anaknya. Sarah tewas dengan pisau menancap di dadanya.”
Ruangan serasa berputar. Aku memegangi tepi meja. Maya mencengkram tanganku.
“Sori.. sori,Yunus. Kukira kau sudah membaca tentang itu, tapi tentu saja… kau sudah di China.”
Mataku terpejam rapat-rapat. Teringat olehku ketika aku menyelinap keluar malam itu, menuju rumah Sarah. Tapi aku berbalik dan pulang, untuk menunggunya paginya saja.
Kalau saja aku jadi kerumahnya, pikirku merana,
mungkin ia masih hidup. Padahal selama bertahun-tahun ini aku merasa dia telah membenciku. Oh, tuhan. Siapa yang membunuhnya? Siapa? Ataukah ia bunuh diri?
Aku bangkit berdiri. “Maafkan aku, Maya. Aku.. aku tidak enak badan.”
Dan aku pun kabur.
Para polisi. Mereka pasti menghubungi ayahnya.
Kenapa tidak memberitahuku?
Malam itu aku tidak bisa tidur. Menjelang pagi baru aku tertidur. Aku mimpi buruk. Ada sosok wanita berdiri dalam gelap, menusuk Sarah dan berteriak-teriak padanya. Sosok itu melangkah ke bawah cahaya. Lalu menghilang begitu saja.
Beberapa bulan berikutnya sungguh bulan-bulan penuh derita bagiku. Bayangan tubuh Sarah yang bermandikan darah selalu muncul dalam benakku. Terpikir olehku untuk menemui Dr.Billy lagi, tapi aku tahu aku tak akan berani mendiskusikan ini dengan siapa pun. Aku bahkan merasa bersalah hanya karena memikirkan bahwa aku tidak jadi datang menemui Sarah malam itu. Kucoba untuk mengusir pikiran itu dan berkonsentrasi pada pekerjaanku. Tidak mungkin. Dengan kecewa kupandang laporan keuangan yang baru saja ku kacaukan.
Amanda mengawasiku, cemas. “Kau tak apa-apa, Yunus?”
Aku memaksa diri untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
“Aku ikut prihatin mendengar tentang temanmu Sarah.”
Aku telah menceritakan soal Sarah pada Amanda.
“Aku…aku pasti akan bisa mengatasinya.”
“Bagaimana kalau kita makan berdua malam ini?”
“Terima kasih Amanda. Aku..aku sedang malas. Minggu depan saja oke.”
“Oke. Kalau ada yang bisa kulakukan….”
“Kuhargai perhatianmu. Sekali lagi thanks ya..”
Kertas-kertas perawan berkata padaku, “Si sok suci lagi punya masalah. Rasain.”
“Aku merasa kasihan pada Yunus. Masalahnya kelihatan berat.”
“Biarkan saja. Biar dia tau rasa.”
Saat aku akan meninggalkan kantor, Reina menghentikanku. Dia teman satu kantor lain bagian. “Hei, Yunus,aku perlu bantuan.”
“Maaf, Reina, aku…”
“Ayolah santai sedikit!” Reina memegang lenganku. “Aku perlu nasihat dari sudut pandang seorang pria.”
“Reina, aku tidak…”
“Aku jatuh cinta pada seseorang pria, dan aku ingin menikah dengannya, tapi ada masalah. Maukah kau membantuku?”
Aku ragu-ragu. Aku tidak menyukai Reina, tapi membantunya toh tidak ada salahnya.
“Bagaimana jika besok?”
“Aku perlu bicara denganmu sekarang. Penting Sekali.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “Baiklah.”
“Bisakah kita bicara di rumahmu?”
Aku menggeleng. “Tidak.” Pasti akan susah menyuruhnya pulang.
“Kalau begitu kau mampir ke apartemenku ya?”
Aku ragu-ragu. “Baiklah”
Dengan begitu aku bisa pulang kapan saja aku mau. Kalau aku bisa membantunya mendapatkan pria yang dicintainya,mungkin dia takkan pernah menggangguku lagi di kantor.
Kertas-kertas perawan berkata kepada ku. “Astaga! Si Yunus akan ke apartemen wanita jalang itu. Bego banget tuh cowok, kemana otaknya?”
“Dia hanya akan mencoba membantunya. Kan tidak apa-apa…”
“Ah, kapan sih kau bisa dewasa? Cewek itu kan mau tidur dengannya.”
“Mana mungkin?”
“Kita lihat saja nanti.”
To be continue.....