AKU

SI MELANKOLIS YANG SEMPURNAKAH?

Cinta Dan Nafsu

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 00.48
Cinta merupakan makhluk sederhana yang terbentuk dari satu atau beberapa sel yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Cinta pada dasarnya tidak mempunyai rasa. Rasa cinta itu adalah hati yang telah tercemar olehnya. Hati pun terasa tak normal oleh cinta. Ion-ion cinta yang telah larut mencemari hati dapat mengubah konsentrasi dalam pikiran manusia. Adanya rasa pada cinta di hati manusia akan menyebabkan kekeruhan pada diri manusia tersebut. Tetapi kekeruhan pada diri manusia dapat dipisahkan oleh Ayat-Ayat Tuhan penjaga alam semesta.

Nafsu adalah makhluk yang hidupnya menghisap makanan dari akhlak-akhlak dimana tempat ia bersemayam. Nafsu yang telah terlarut pada akhlak diri manusia akan mencemari hati manusia. Jika tingkat keimanan terlarut selalu rendah, maka jiwa pun terasa mati dan mungkin manusia tersebut akan terurai menjadi jasad-jasad yang berbau busuk.

Kehidupan di alam semesta raya memang sulit, karena matahari tak mampu memberikan kehangatannya sampai menembus dasar, sehingga cinta yang disemaikan oleh Ayat-Ayat Tuhan tidak semuanya berfotosintesis sempurna. Perjalanan akidah-akidah akhlak di udara pun berjalan lambat, sehingga nafsu dan cinta yang bercampur menjadi kendala bagi kehidupan manusia di dasar semesta.

Nafsu dan cinta berjalan beriringan. Perbedaannya begitu amat tipis,setipis helaian serat sutra. Oleh karena itu, jiwa-jiwa yang telah jenuh terhadap kebenaran akan terlihat adanya nafsu biru yang berbau. Hati mulai tercemar begitupun cinta. Jika cinta dan nafsu bersentuhan maka kepekatan nafsulah yang menang. Cahaya dan kehangatan mentari pun tak kan mampu memudarkannya…

To be continue................

Haru Biru

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 20.43

Indah ragamu , indah hangatmu , indah setiamu , merekah cerah di sela himpitan warna warni fatamorgana. Sungguh indah…

Pandanganku fokus membungkus , senyumku terpaku membeku , ragaku melayang terbang , mengalir mengulir bersama nafas-nafas binal , merengkuhmu , meleburmu , mendulangmu , bersamaan dengan bulir-bulir peluh yang menyembul dengan sinar-sinarnya yang berkilau. Aku bersama dekapanmu… Aku bersama dekapanmu… Aku bersama dekapanmu… Sayang…

Telanjang tegak berdiriku dalam sapuan angin-angin sutra yang begitu lembut bak pengeran yang selalu dimanja , mengimbangi angkuhmu yang kokoh menopang langit biru , dan akhirnya kurelakan diriku menjadi awan gemawan putih yang menggumpal dan selalu akan menemanimu. Oh… inikah Cinta?

Jiwamu akan terus menjadi gelas kristal yang bercahaya. Dan jiwaku akan terus menjadi tetesan embun yang akan mengisi dan meneduhkanmu. Walaupun waktu berhenti tetesan embun itu akan terus meneduhkanmu begitu pula gelas kristal yang akan terus menerangiku dengan kerlipan cahayanya.

Tak ada yang abadi… Namun percayalah dengan keabadian… Dan ketika kita percaya , dituntunlah kita ke sana. Seperti anak-anak domba yang dapat merumput di Sahara tanpa penggembala.

Dunia Fana

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 20.44

Alam semesta sangatlah teratur. Miliaran bintang dan galaksi menari dalam orbit mereka masing-masing dengan serasi dan gemulainya. Saling berpindah sesamanya dan mengagumkan.

Aku tidak banyak memikirkan hal tersebut. Itulah sebabnya mengapa pandanganku selalu ditutupi halimun-halimun yang pekat,lengket merekat,mengikat cermat. Namun hati kecilku masih mampu berfikir,mengikir lamunan,mengukir renungan. Dan akhirnya bergulir menyelidik pencipta keteraturan yang bergerak dengan ritme yang begitu sempurna.

Alam semesta yang ku tapaki tercipta oleh Sang Pencipta, KeberadaanNya terkadang samar ketika hatiku sedang gusar,namun sifatNya selalu terwujud dalam segala sesuatu. Bergetar,menggelegar,memutar kesadaran,dan menemaniku dikala sendiri dengan sapuan sang fajar.

Dia menciptakan kita dari tanah liat,memberkahinya,dan melimpahkan banyak kemurahan atasnya. Siapa yang dapat melihat,mendengar,dan berjalan atau bernafas dengan sendirinya? Dunia yang fana selalu mengingatkan kita kepada kejernihan pikiran dan kesadaran. Di mana keperkasaan ombak-ombak menghancurkan karang-karang besar yang mulai rapuh dan ketajaman larva meratakan dataran-dataran yang berpeluh,sebagai pertanda segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan untuk musnah. Dan itulah yang sebenar-benarnya. Meski demikian diawal permulaan sejarah telah tergambar akhirat,tempat tinggal kita yang kekal.

Aku Adalah Dirinya Part V

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 01.23
Apartemen Reina didekorasi ala studio dengan gaya yang amat buruk. Poster-poster film horor ditempel di dinding, bersebelahan dengan poster cowok-cowok telanjang. Pahatan kayu erotis khas bali kecil-kecil bertebaran di atas meja-mejanya.

Ini apartemen cewek sinting, pikir ku. Aku sudah tak sabar ingin meninggalkan tempat itu.
“Hei, aku senang kamu mau datang, Yunus. Aku sungguh bahagia. Kalau….”
“Maaf, aku tidak bisa lama-lama, Reina,” Aku memperingatkan. “Ceritakan tentang pria yang kau cintai itu.”
“Dia betul-betul istimewa.” Reina mengulurkan segelas minuman. “Vodka?”
“Aku tidak minum minuman keras.”
Reina menyeringai. “Kau tidak minum. Berarti kau tinggal menunggu kegiatan yang menyenangkan kalau begitu?”
Aku menukas tajam, “Reina, kalau kau tidak….”
“Sori aku Cuma bergurau.” Reina mengulurkan lagi segelas vodka kepadaku. “Minumlah sedikit saja. Tidak akan membuatmu mabuk.”
Akhirnya aku menyeruput sedikit vodka ku. “Ceritakan tentang pria itu.”
Reina duduk di sofa di sebelahku.
“Belum pernah aku bertemu pria seperti dia. Dia seksi seperti kau dan…”
“Kalau omonganmu ngelantur, aku pulang.”
“Hei, maksudku tadi kan memujimu. Pendeknya pria itu cinta mati kepadaku, tapi ayah dan ibunya sepertinya tidak suka kepadaku.”
Aku tidak berkomentar.
“Jadi masalahnya, jika aku mendesaknya, dia akan menikah denganku, tapi dengan demikian, berarti dia telah melawan keluarganya. Hubungan mereka sangat dekat, dan kalau dia menikah denganku, keluarganya takkan mengakuinya. Dan suatu hari nanti, mungkin dia akan menyalahkanku. Kau paham masalahnya?”
Aku menyeruput vodkaku lagi. “Ya, aku…”
Sesudah itu waktu serasa menghilang dalam kabut.


Aku terbangun pelan-pelan, menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres. Aku merasa telah diberi obat bius. Untuk membuka mata saja susah sekali. Aku memandang ke sekeliling ruangan dan aku mulai panik. Aku terbaring di atas tempat tidur, telanjang, di kamar hotel. Aku berhasil duduk, dan kepalaku serasa dipukul-pukul. Aku sama sekali tak tahu aku ada di mana atau bagaimana cara aku berada di tempat seperti ini. Ada menu room service di meja di sebelah tempat tidur, dan aku ulurkan tangan untuk menjangkaunya. Panorama Hotel Bali. Sekali lagi aku membacanya,terperangah. Ngapain aku di Bali? Sudah berapa lama aku di sini? Kunjungan ke apartemen Reina hari Kamis. Sekarang hari apa? Dengan kecemasan yang semakin memuncak ku angkat gagang telepon.
“Ada yang bisa dibantu?
Susah bagiku untuk bicara. “Hari…. Hari… apa sekarang?”
“Hari ini tanggal tujuh….”
“Bukan. Maksud saya hari ini hari apa?
“Oh, Ini hari senin. Bisakah saya…..”
Aku langsung meletakkan gagang telepon dengan bengong. Senin. Aku telah kehilangan tiga hari tiga malam. Aku duduk di tepi tempat tidur, mencoba mengingat-ingat. Aku telah pergi ke apartemen Reina.. Aku minum segelas vodka… Setelah itu segalanya kosong.

Perempuan itu pasti telah memasukkan sesuatu ke dalam gelas vodkaku yang telah membuatku kehilangan ingatan untuk sementara.Omongan bahwa ia perlu nasihatku itu cuma tipuan. Goblok benar aku, bisa masuk perangkapnya. Aku sama sekali tak ingat apa yang telah terjadi dalam ruangan ini.
Aku harus keluar dari sini, pikirku putus asa. Aku merasa kotor, seakan setiap senti tubuhku telah diperalat. Apa yang telah dilakukan Reina kepadaku? Aku coba untuk tidak memikirkan hal itu. Aku bangkit dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi yang mungil. Aku biarkan pancaran air panas menerpa tubuhku., agar bisa membersihkan hal-hal menjijikkan yang telah terjadi padaku. Bagaimana kalau ia nanti hamil? Sungguh menjijikkan mempunyai anak dari Reina. Aku melangkah keluar dan mengeringkan tubuhku, dan berjalan ke lemari pakaian. Pakaianku tidak ada. Yang ada di dalam lemari hanyalah celana levis dengan sobekan yang cukup besar pada bagian lutut dan kaus putih super ketat, serta sandal gunung berwarna hijau. Jijik sekali rasanya harus memakai pakaian itu, tapi aku tak punya pilihan lain. Cepat-cepat aku berpakaian dan mengerling ke cermin. Aku kelihatan sangat aneh dengan pakaian itu.

Aku memeriksa dompetku. Hanya dua ratus ribu rupiah. Kartu ATM dan kartu kreditku masih ada. Terima kasih, Tuhan!
Aku keluar kamar. Aku turun dengan tangga menuju lobi dan berjalan ke meja resepsionis untuk cek out. Aku keluarkan kartu kreditku kepada kasir pria muda itu.
“Mau cek out? Tadi teman prianya sudah meninggalkan hotel sejak tadi pagi.”
Aku menatapnya, bertanya-tanya dalam hati, Apa maksudnya? Teman pria? Tadinya aku ingin sekali bertanya kapan Reina meninggalkan hotel, tapi akhirnya aku memutuskan lebih baik diam saja. Si kasir menggesekkan kartu kreditku ke mesin. Lalu memberikan dua lembar struk kepadaku. “Tolong tanda tangan di sini.” Aku menandatangani kedua struk itu,lalu cepat-cepat meninggalkan hotel itu dengan taxi menuju bandara.

Dalam perjalanan pulang naik pesawat itu, aku memikirkan hal-hal tak termaafkan yang telah dilakukan Reina padaku. Aku harus memberinya pelajaran. Mana bisa aku membiarkannya begitu saja. Tapi… jika dia malah menuduhku aku yang telah memperkosanya…… Sial… Dasar perempuan brengsek!

Ketika aku tiba di rumah kontrakkanku, aku merasa telah kembali ke tempat yang paling aman dan nyaman. Tak sabar sudah aku ingin bebas dari seragam menjijikkan yang kukenakan. Aku merasa perlu mandi lagi sebelum istirahat di kamarku. Aku berjalan menuju lemari pakaianku dan berhenti dengan kaget. Di depanku di atas meja kerja ada satu botol vodka. Percuma aku tak bisa mengingat apa pun.

Aku berbaring di tempat tidurku malam itu, terlalu lelah sampai aku tak bisa memejamkan mata, pikiranku bingung. Kalau saja apa yang dilakukan Reina tersiar, sungguh memalukan. Reina pasti akan memfitnahku. Aku mengerti betul sifatnya. Semua orang di kantor akan mempercayai apa yang dikatakan Reina. Kalau nanti memang dia hamil. Dia pasti akan menuntutku untuk menikahinya. Apa yang harus aku lakukan?
Teman-teman sudah pernah mencoba memberitahuku bahwa Reina terobsesi dengan diriku, tapi aku mengabaikannya. Sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa melihat semua gejalanya: Reina benci kalau ada wanita lain ngobrol denganku,termasuk Amanda; tak bosan-bosannya ia mengajakku kencan,tapi tak sekali pun aku turuti.

Pukul 06.30, saat aku bersiap-siap untuk ke kantor, handphoneku berdering. Kuangkat. “Halo.”
“Yunus, ini Amanda. Kau sudah dengar berita?”
“Berita apa?”
“Ada di televisi. Polisi baru saja menemukan mayat Reina.”
Sekejap bumi serasa terbalik. “Oh, Tuhan! Apa yang terjadi?”
“Menurut polisi, ada yang menusuknya sampai mati dan pisaunya masih menancap di dadanya.”

To be Continue.....

Aku Adalah Dirinya Part IV

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 05.52
Selama seminggu berikutnya, tak ada lain yang bisa kupikirkan selain reuni. Salahkah kalau aku pergi nanti? Bagaimanakah jika Sarah muncul? Masihkah dia merasa tersakiti olehku? Akankah dia ingat aku?
Malam sebelum acara reuni aku tak bisa tidur. Aku tergoda untuk membatalkan kedatangan untuk acara reuni itu besok. Bodoh betul, pikirku. Yang sudah berlalu biarlah berlalu.

Keesokan harinya pukul lima sore, aku berganti baju tiga kali sebelum akhirnya memutuskan setelan jas mana yang akan kupakai dalam acara reuni itu. Aku memilih setelan jas berwarna abu-abu muda dengan potongan yang sangat pas dengan tubuhku, sederhana tapi tetap gaya.
Ketika memasuki aula Harapan Persada Area High School yang didekorasi meriah, aku berada dalam rumunan 150 orang asing yang serasa kukenal. Beberapa mantan teman sekelasku malah sama sekali tak bisa kukenali, yang lain hanya berubah sedikit. Aku mencari satu orang: Sarah. Apakah ia sudah banyak berubah? Ikutkah pasangan barunya? Orang-orang mendekatiku.
“Yunus, aku Ragil Purnomo. Kau keren sekali bro!”
“Terimakasih. Kau juga, Ragil.”
“Kenalkan, pacarku….”

“Yunus, kau Yunus, kan?”
“Ya. Hmm…”
“Prita. Prita Anggraeni. Ingat aku?”
“Oh ya..” Pakaiannya buruk dan ia kelihatan salah tingkah.”
“Apa kabar , Prit?”
“Yah, kau tahu kan, keluargaku berantakan setelah ayahku masuk penjara karena kasus korupsi.”
“Sabar ya. Aku ikut prihatin.”
“Yeah. Akhirnya aku berhenti kuliah. Dan sekarang aku bekerja sebagai pelayan restoran.”

“Yunus! Aku Fransiska. Astaga, kau tambah keren ya!”
“Terima kasih, Siska.” Wanita itu sudah bertambah gemuk dan memakai cincin berlian besar di jari tengahnya.
“Aku bisnis property sekarang. Kau sudah menikah?”
Aku ragu-ragu. “Belum.”
“Ingat Rudi Subagya? Kakak kelas mantan ketua OSIS. Kami menikah,dan sudah dikaruniai seorang putri.”
“Wah,selamat ya…”


Sungguh mengherankan betapa orang bisa berubah dalam sepuluh tahun. Ada yang jadi gemuk dan ada yang jadi kurus… kaya raya dan miskin. Menikah dan cerai.. jadi orangtua dan kehilangan orangtua.
Waktu berjalan terus. Acara dilanjutkan dengan makan malam, musik, dan dansa. Aku ngobrol dengan mantan teman-teman sekelasku dan mendengarkan kisah hidup mereka, tapi pikiranku dipenuhi Sarah. Ia masih belum kelihatan batang hidungnya. Dia takkan datang. Aku memutuskan. Dia pasti tahu aku akan ada di sini dan dia tak mau melihatku lagi.

Seorang wanita berwajah cantik mendekatiku.
“Yunus! Aku sangat berharap bisa bertemu kau di sini.”
Ia G.Maeyana. Aku benar-benar senang bertemu denganya. G.Maeyana dulu salah satu teman dekatku. Kami duduk di meja kosong di sudut,untuk mengobrol.
“Kau tambah cantik, Maya,” Kata ku.
“Kau juga tambah keren. Sori aku telat. Bayiku sedang kurang sehat. Sejak terakhir kita ketemu aku sudah menikah dan cerai. Sekarang aku lagi pacaran dengan bos tempat aku bekerja. Bagaimana denganmu? Setelah pesta perpisahan dulu, kau menghilang. Aku pernah beberapa kali mencoba mencarimu, tapi yang ku dengar kau ada di China.”
“Aku ke Nanjing ,” kataku. “Ayahku mendaftarkanku di sekolah bahasa Mandarin di sana. Kami berangkat pagi setelah pesta perpisahan itu.”
“Aku mencoba segala cara untuk menghubungimu. Para polisi itu mengira aku tahu kau di mana. Mereka mencarimu sebab kau dan Sarah kan pacaran.”
Aku berkata pelan, “Polisi?”
“Ya. Yang menyelidiki kematian Sarah.”
Aku merasa wajahku tidak dialiri darah lagi.
“Kematian Sarah?”
Maya bengong menatapnya. “Ya Tuhan! Kau tak tahu itu?”
“Tahu apa?” Aku ngotot. “Kau ini ngomong apa?”
“Sehari setelah pesta perpisahan itu, otangtua Sarah pulang dan menemukan mayat anaknya. Sarah tewas dengan pisau menancap di dadanya.”

Ruangan serasa berputar. Aku memegangi tepi meja. Maya mencengkram tanganku.
“Sori.. sori,Yunus. Kukira kau sudah membaca tentang itu, tapi tentu saja… kau sudah di China.”

Mataku terpejam rapat-rapat. Teringat olehku ketika aku menyelinap keluar malam itu, menuju rumah Sarah. Tapi aku berbalik dan pulang, untuk menunggunya paginya saja. Kalau saja aku jadi kerumahnya, pikirku merana, mungkin ia masih hidup. Padahal selama bertahun-tahun ini aku merasa dia telah membenciku. Oh, tuhan. Siapa yang membunuhnya? Siapa? Ataukah ia bunuh diri?

Aku bangkit berdiri. “Maafkan aku, Maya. Aku.. aku tidak enak badan.”
Dan aku pun kabur.
Para polisi. Mereka pasti menghubungi ayahnya. Kenapa tidak memberitahuku?

Malam itu aku tidak bisa tidur. Menjelang pagi baru aku tertidur. Aku mimpi buruk. Ada sosok wanita berdiri dalam gelap, menusuk Sarah dan berteriak-teriak padanya. Sosok itu melangkah ke bawah cahaya. Lalu menghilang begitu saja.

Beberapa bulan berikutnya sungguh bulan-bulan penuh derita bagiku. Bayangan tubuh Sarah yang bermandikan darah selalu muncul dalam benakku. Terpikir olehku untuk menemui Dr.Billy lagi, tapi aku tahu aku tak akan berani mendiskusikan ini dengan siapa pun. Aku bahkan merasa bersalah hanya karena memikirkan bahwa aku tidak jadi datang menemui Sarah malam itu. Kucoba untuk mengusir pikiran itu dan berkonsentrasi pada pekerjaanku. Tidak mungkin. Dengan kecewa kupandang laporan keuangan yang baru saja ku kacaukan.
Amanda mengawasiku, cemas. “Kau tak apa-apa, Yunus?”
Aku memaksa diri untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
“Aku ikut prihatin mendengar tentang temanmu Sarah.”
Aku telah menceritakan soal Sarah pada Amanda.
“Aku…aku pasti akan bisa mengatasinya.”
“Bagaimana kalau kita makan berdua malam ini?”
“Terima kasih Amanda. Aku..aku sedang malas. Minggu depan saja oke.”
“Oke. Kalau ada yang bisa kulakukan….”
“Kuhargai perhatianmu. Sekali lagi thanks ya..”

Kertas-kertas perawan berkata padaku, “Si sok suci lagi punya masalah. Rasain.”
“Aku merasa kasihan pada Yunus. Masalahnya kelihatan berat.”
“Biarkan saja. Biar dia tau rasa.”


Saat aku akan meninggalkan kantor, Reina menghentikanku. Dia teman satu kantor lain bagian. “Hei, Yunus,aku perlu bantuan.”
“Maaf, Reina, aku…”
“Ayolah santai sedikit!” Reina memegang lenganku. “Aku perlu nasihat dari sudut pandang seorang pria.”
“Reina, aku tidak…”
“Aku jatuh cinta pada seseorang pria, dan aku ingin menikah dengannya, tapi ada masalah. Maukah kau membantuku?”
Aku ragu-ragu. Aku tidak menyukai Reina, tapi membantunya toh tidak ada salahnya.
“Bagaimana jika besok?”
“Aku perlu bicara denganmu sekarang. Penting Sekali.”
Aku menarik napas dalam-dalam. “Baiklah.”
“Bisakah kita bicara di rumahmu?”
Aku menggeleng. “Tidak.” Pasti akan susah menyuruhnya pulang.
“Kalau begitu kau mampir ke apartemenku ya?”
Aku ragu-ragu. “Baiklah” Dengan begitu aku bisa pulang kapan saja aku mau. Kalau aku bisa membantunya mendapatkan pria yang dicintainya,mungkin dia takkan pernah menggangguku lagi di kantor.

Kertas-kertas perawan berkata kepada ku. “Astaga! Si Yunus akan ke apartemen wanita jalang itu. Bego banget tuh cowok, kemana otaknya?”
“Dia hanya akan mencoba membantunya. Kan tidak apa-apa…”
“Ah, kapan sih kau bisa dewasa? Cewek itu kan mau tidur dengannya.”
“Mana mungkin?”
“Kita lihat saja nanti.”

To be continue.....

Aku Adalah Dirinya Part III

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 05.20
Aku sedang mandi buru-buru, aku kesiangan, ketika aku mendengar bunyi itu. Pintu membuka? Menutup? Aku mematikan keran, mendengarkan, hatiku berdebar kencang. Sunyi. Sesaat aku berdiri diam saja, tubuhku basah berkilau, kemudian cepat-cepat mengeringkan diri dan hati-hati melangkah ke dalam kamarku. Segala sesuatu kelihatan normal. Rupanya imajinasiku yang berlebihan lagi. Aku harus buru-buru berpakaian. Aku berjalan ke laci pakaian dalamku, menariknya terbuka, dan memandangnya tak percaya. Ada yang telah mengaduk-aduk pakaian dalamku. Singlet dan celana dalamku ditumpuk jadi satu. Padahal aku biasanya menumpuknya terpisah dengan rapi.

Aku tiba-tiba merasa jijik. Apakah ada seseorang yang membuka celanaku, mengambil celana dalamku, lalu menggosokkannya ke tubuhnya? Aku merasa sesak napas. Aku harus melapor ke pemilik rumah ini, tapi mereka akan menertawakanku. Tak ada gunanya.

Aku bergegas berpakaian, tiba-tiba saja aku ingin cepat-cepat meninggalkan rumah kontrakkan itu. Aku harus pindah. Aku akan mencari rumah kontrakan yang lebih aman. Kamarku telah disusupi seorang penguntit. Tapi sambil memikirkannya pun aku merasa itu tak mungkin.

Mungkin saja aku sendiri yang mengaduk-ngaduk pakaian dalamku. Mungkin itu yang terjadi. Ataukah harapanku ini terlalu muluk?

Ada amplop dalam kotak surat di depan pintu. Pengirimnya “Harapan Persada High School, Jakarta”
Aku membaca undangan itu dua kali.

Reuni Sepuluh Tahunan!

Yang kaya, yang miskin, direktur, gelandangan! Pernahkah kau penasaran, ingin tahu apa yang terjadi pada teman-temanmu selama sepuluh tahun belakangan ini? Sekaranglah kesempatan untuk mendapatkan jawabannya. Akhir minggu tanggal 20 juni kita akan kumpul-kumpul seru. Makan, minum, musik, dan dansa. Jangan sampai tidak ikutan.
Kirimkan saja kartu penerimaan terlampir ini, supaya kami tahu kau mau datang. Semua menunggu-nunggu ingin berjumpa denganmu.

Dalam perjalanan ke kantor, aku memikirkan undangan itu. “Semua menunggu-nunggu ingin berjumpa denganmu.” Semua kecuali Sarah, pikirku pahit.

“Kita akan kuliah bersama-sama di Australia. Ayahku setuju kita bisa kuliah bersama di sana. Maukah kau pergi bersamaku ke sana?”

Dan aku teringat dan dapat merasakan kepedihan Sarah saat menungguku di bandara dengan putus asa, padahal Sarah begitu percaya aku akan pergi bersamanya. Aku telah berubah pikiran, dan aku tak cukup jantan untuk datang dan memberitahunya. Aku malah membiarkannya kebingungan di bandara, sendirian. Lupakan saja undangan itu. Aku tak akan pergi.


Aku makan siang bersama Amanda di Solaria persis berseberangan dengan gedung kantorku. Kami duduk di pojok makan tanpa bicara.
“Kelihatannya kau punya masalah,” suaranya ungu tua. Kata Amanda.
“Maaf,” Aku ragu-ragu sejenak. Aku tergoda untuk menceritakan soal pakaian dalam itu pada Amanda, tapi kedengarannya seperti orang bodoh. Ada yang mengaduk-aduk pakaian dalammu? Maka alih-alih bercerita, aku berkata, “Aku menerima undangan reuni sepuluh tahunan SMU.”
“Kau akan datang?”
“Jelas tidak.” Jawabanku terdengar lebih keras.
Amanda memandangku heran. “Kenapa tidak? Reuni seperti itu biasanya mengasyikkan lho.”
Apakah sarah akan datang? Apakah ia sudah punya pacar? Apa yang akan kukatakan kepada sarah? “Maaf aku tidak bisa kuliah bersamamu di Australia. Maaf aku tak bisa datang menemuimu di bandara untuk mengatakan yang sebenarnya,aku tidak bisa menemanimu kuliah di Australia.”
“Aku takkan datang.”

Tetapi aku tak berhasil mengusir undangan itu dari benakku. Pasti ayik bertemu dengan teman sekelasku dulu. Pikirku.



Ketika aku kembali dari makan siang, kembali ke meja kerjaku dan menyalakan komputerku. Betapa herannya diriku , bintik-bintik tiba-tiba bergulung memenuhi layar komputerku. Bintik-bintik itu mulai membentuk fotoku. Saat aku masih menatap dengan ngeri, muncul tangan yang memegang kapak di atas layar. Tangan itu berlari menuju fotoku, siap menancapkan kapaknya ke palaku.
Aku berteriak, “Tidak!”
Aku mematikan computer dan meloncat berdiri.
Amanda yang bergegas datang sudah berada di sampingku. “Yunus! Ada apa?”
Tubuhku gemetar “Di…. Di layar…”
Amanda menyalakan komputer muncul fotoku di monitor komputer.
Amanda menoleh memandangku,bingung.
“Apa..?”
“Sudah…sudah lenyap,” bisikku.
“Apa yang lenyap?”
Kepalaku menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku… aku stress berat belakangan ini, Amanda. Sori.”
“Kenapa kau tidak konsultasi dengan Dr.Billy?”
Aku sudah ke Dr.Billy sebelumnya. Ia psikolg perusahaan yang ditugasi menangani para ahli keuangan yang stress. Ia bukan dokter umum,tapi pandai dan penuh pengartian, dan sungguh membantu kalau ada orang yang diajak bicara.
“Aku akan ke tempatnya,” kata ku kepada Amanda.”

Dr.Billy berusia lima puluhan, kebapakannya dalam usianya yang masih cukup muda. Kantornya merupakan oasis tenang di ujung gedung,suasananya santai dan nyaman.
“Semalam aku bermimpi,” aku bercerita. Aku memejamkan mata, mengingat kembali mimpiku.
“Aku sedang berlari. Aku berada di taman yang penuh bunga-bunga… Bunga-bunga itu punya wajah,wajahnya berganti-ganti aneh dan jelek… Mereka berteriak-teriak dan memplototiku… Aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Aku terus berlari menuju sesuatu.. Aku tak tahu apa…” Aku berhenti dan membuka mataku.
“Mungkin kau melarikan diri dari sesuatu? Adakah yang sedang mengejar-ngejarmu?”
“Aku tak tahu dokter.. Tadi pagi ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku, kedengarannya aneh, tapi.. kurasa ada yang sedang mengikutiku.”
Sesaat Dr.Billy mengawasiku. “Siapa yang sedang mengikutimu?”
“Aku… aku tak tahu.”
“Kau pernah melihat orang yang mengikutimu?”
“Tidak.”
“Kau tinggal sendirian ,kan?”
“Ya.”
“Apakah kau mempunyai hubungan khusus dengan seseorang? Maksudku, hubungan cinta?”
“Tidak. Saat ini tidak.”
“Jadi, sudah berapa waktu sejak… maksudku kadang-kadang jika seorang pria tidak punya wanita dalam hidupnya…yah,sejenis ketegangan fisik yang timbul… Kurasa kau bekerja terlalu keras, Yunus. Kurasa tak ada yang perlu kau cemaskan. Mungkin Cuma ketegangan fisik biasa. Santailah sedikit. Beristirahatlah lebih banyak lagi.”
“Akan kucoba.”
Amanda sudah menungguku. Apa kata Dr.Billy?”
Aku berusaha tersenyum. “Dia bilang aku baik-baik saja. Aku Cuma bekerja terlalu keras.”
“Nah,kita harus melakukan sesuatu untuk itu,” kata Amanda. “Sebagai permulaan, bagaimana kalau kita istirahat saja selama sisa hari ini?” Suaranya penuh perhatian.
“Terima kasih.” Aku memandangnya dan tersenyum. Kadang aku berpikir ia wanita yang menyenagkan. Teman yang baik.
Tak mungkin dia, pikir ku. Tak mungkin.

To be continue....

Aku Adalah Dirinya Part II

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 00.36
Kalau ada yang meremehkanku sedikit saja disengaja atau tidak, aku akan marah besar. Suatu hari waktu aku bermobil ke kantor, ada mobil yang memotong jalanku. Aku mengertakkan gigi dan berpikir, “Kubunuh kau, bangsat.” Pria pengemudi mobil itu melambai penuh permohonan maaf dan aku tersenyum manis. Tapi hatiku masih membara.

Pada hari suramku, ketika awan gelap menyelubungiku, aku membayangkan orang-orang di jalan mendadak terkena serangan jantung atau mati dibunuh jambret. Kejadian-kejadian dalam angan-anganku itu rasanya nyata sekali. Dan sesaat kemudian, aku akan dipenuhi rasa malu.

Pada hari-hari baiknya, dalam jiwaku terpancar wewangian bunga setaman yang begitu harum, aku orang yang lain sekali. Aku benar-benar baik hati, simpatik, serta senang membantu orang lain. Satu-satunya yang menodai kebahagiaanku adalah ketakutan akan kesadaranku bahwa awan gelap akan menyelubungiku lagi, dan aku akan tak berdaya di dalamnya.

Hampir setiap minggu pagi, aku mendatangi salah satu panti asuhan di daerah Jakarta Selatan. Aku memberi pelajaran tambahan pada anak-anak panti yang membutuhkannya. Aku menyediakan diri membantu semua kegiatan di panti itu dan mengabdikan sebanyak mungkin waktuku sejauh aku bisa. Paling senang aku mengajar anak-anak menulis dan berhitung.

Suatu minggu, panti asuhanku mengadakan bazar amal untuk mengumpulkan dana, dan aku membawa begitu banyak kartu ucapan selamat dan kartu-kartu bertuliskan kata-kata indah hasil kreasiku sendiri ke panti asuhan untuk dijual. Ketua panti, Farida Hasan, kagum sekali melihat kartu-kartu ucapan itu.

“Ini… ini brilian! Seharusnya kau menjualnya di toko-toko buku besar.”

Wajah ku langsung merona merah. “Tidak. Saya hanya membuat kartu-kartu itu untuk bersenang-senang.”

Bazar itu ramai sekali. Mereka yang datang dari berbagai macam kalangan dan usia. Mereka mendatangi stan-stan kesehatan dan penjualan. Ada yang menjual pakaian, mainan, makanan tradisional, perhiasan silver, tanaman hias, tas, sandal dan sepatu, dan masih banyak lainnya. Orang-orang berjalan dari stan ke stan, mencicipi makanan dan minuman, membeli barang-barang yang mereka suka.

“Tapi ini kan untuk amal,” Aku mendengar seorang wanita menjelaskan pada suaminya.

Aku memandang kartu-kartu ucapan yang telah aku buat yang terpajang di meja stanku, sebagian besar kartu berwarna lembut dihiasi dengan bunga dan dedaunan kering, maupun cangkang-cangkang kerang kecil dan pita warna-warni. Perasaanku mulai cemas, “Kau ini hanya membuang-buang uang dan waktumu.”

Seorang laki-laki mendatangi stanku. “Hai. Kamu yang membuat semua kartu-kartu ini?”
Suaranya biru tua.
Bukan,goblok. Andri Wongso yang membuat semua kartu-kartu ini.
“Kau sangat berbakat.”
“Terima kasih.” Tahu apa kau tentang bakat?
Ada pasangan muda yang datang ke stanku. “Lihat kartu-kartu itu! Aku harus membelinya. Kau hebat sekali.”

Sepanjang sore orang-orang datang ke stanku untuk membeli kartu-kartuku dan menyampaikan kepadaku, betapa berbakatnya aku. Aku ingin sekali mempercayai mereka, tetapi setiap kali tirai hitam menutupiku, aku berpikir, Mereka semua telah tertipu. Pada akhir hari itu, aku hampir berhasil menjual seluruh kartu-kartuku. Aku mengumpulkan uang yang telah dibayarkan orang-orang kepadaku, memasukkan ke amplop, dan menyerahkannya kepada kepala panti Farida Hasan.

Ketua panti menerimanya dan berkata, “Terima kasih, Yunus. Bakatmu luar biasa, membawa banyak keindahan dalam hidup orang banyak.”
Ayah dengar itu?



Minggu berikutnya, aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengunjungi Museum Nasional Jakarta Pusat. Di museum Nasional biasanya aku mempelajari koleksi seni patung-patung batu peninggalan candi-candi Hindu Budha yang ada di Indonesia, keramik-keramik China, serta patung-patung kayu primitif Indonesia. Salah satu seorang pengunjung muda menarik perhatianku. Wanita itu kira-kira berusia 18 tahun, ramping, rambutnya pirang panjang sampai melebihi bahunya, garis wajahnya kuat dan cerdas. Kita sama-sama sedang mengamati keramik China peninggalan dinasti ching. Wanita itu melirikku dan mengawasiku. “Hai.”
Suaranya kuning hangat.
“Halo,” sahutku malu-malu.
Wanita itu menatapku. “Bagaimana menurutmu tentang keramik itu?”
“Beautiful. Kurasa indah sekali motifnya, ditambah kondisi yang sempurna tidak kelihatan cacat atau rusak sedikitpun.”
Wanita itu tersenyum. “Terima kasih. Namaku Grace. Gracesita.”
“Septi Yunus”
“Kau sering ke sini?” tanya Grace.
“Yup,sesering aku bisa.”
“Aku tinggal di menteng tidak jauh dari sini. Kau tinggal di mana?”
“Di Jakarta Selatan Kebayoran Lama.” Bukan urusanmu, atau kau sengaja ingin tahu ya? Apa yang terjadi padaku?
“Tidak terlalu jauh juga dari sini.”
Wanita itu sudah selesai mengamati keramik.
“Aku lapar. Boleh kutraktir makan siang? Café Oh lala makanannya enak.”
Aku Cuma ragu-ragu sejenak. “Oke. Dengan senang hati.” Aku tak sudi makan siang dengan orang asing. Mungkin ini akan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan bagiku.

Acara makan siang itu sangat menyenangkan dan tidak sekali pun pikiran negatif muncul dalam benakku. Kami ngobrol tentang koleksi yang ada di museum, dan aku bercerita pada Grace tentang ayahku yang seorang kolektor antik.
Saat makan siang kami hampir selesai, Grace melihat seorang temannya yang akan meninggalkan café dan memanggilnya. “Andri, aku tak tahu kalau kau juga makan siang di sini. Kenalkan temanku. Ini Yunus. Andri.”
Andri seumuran dengan Grace, dengan mata bulat dan rambut pendek yang rapi.
“Andri sobatku sejak SMP, Yunus.”
“Ya. Sudah delapan tahunan kita berteman,jadi kalau ingin dengar cerita seru tantang….”
“Andri,bukankah kau harus pergi?”
“Betul.” Ia menoleh kepadaku. “Tapi jangan lupa tawaranku,hehe.. Sampai ketemu lagi.”
Kami memandang Andri pergi. Grace berkata,
“Yunus…”
“Ya?”
“Boleh aku menemuimu lagi?”
“Tentu.” Aku akan senang sekali.


Malamnya, aku menceritakan pengalamanku pada kertas-kertas perawan. “Jangan berhubungan dengan wanita,” kertas-kertas perawan mengingatkan. “Hidupmu akan dibebani oleh cemberutnya dan omelannya. Kau akan menemuinya lagi?”
Aku tersenyum. “Ya. Kurasa dia menyukaiku. Dan aku menyukainya. Aku benar-benar menyukainya.”

To Be Continue......

Aku Adalah Dirinya

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 03.34
Cerita ini adalah fiksi,semoga menghibur...

Di tempat itu, di waktu itu, sejauh yang bisa ku ingat, indraku dipenuhi nuansa warna. Aku bisa melihat warna, mencium warna, dan mendengar warna. Suara angin biru dan terkadang hijau. Suara burung yang berkicau kuning. Suara bunga yang bergoyang merah muda dan terkadang merah. Suara air mengalir abu-abu. Suara daun yang berguguran coklat.

Saat itu aku berusia dua puluh satu tahun, pemalu dan bersuara pelan, dengan kepolosan yang nyaris tak sesuai dengan zaman modern ini. Dengan mata sipit ku, orang-orang sering mengira aku keturuan Tionghoa padahal ayah dan ibuku pribumi asli.Aku suka segalanya tentang Negara dan Bangsa ku. Ketika aku berdiri di atas Candi Borobudur dan memandang ke arah hamparan tanah negeriku. Waktu itu aku memandang hutan, gunung, dan candi-candi, aku tahu seharusnya aku hidup di era itu. Aku berjalan-jalan di kawasan air terjun Tawang Mangu, mendengarkan nyanyian air terjun ketika menyusuri ratusan anak tangga, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di atas batu besar, memandangi pelangi yang tercipta dari bias-bias air terjun dan sinar matahari. Keindahan warna-warni pelangi membuatku kagum sekaligus frustasi. Ingin sekali rasanya aku dilahirkan di antara aneka warna itu sekaligus dapat mengenal mereka. Mereka lebih riil bagiku daripada orang-orang yang berlalu lalang di jalan. Aku ingin sekali menjadi bagian dari warna pelangi.

Aku bisa mendengar suara coklat tua ayahku, “Kau membuang-buang kertas dan waktumu. Kau tak mempunyai bakat.”

Kepindahanku dari rumah orang tua semula membuatku gelisah. Aku cemas bagaimana aku bisa menyesuaikan diri, tetapi ternyata menjadi kejutan yang menyenangkan. Aku menikmati privasi yang ditawarkan rumah kecil itu. Setiap malam aku dapat menelanjangi kertas-kertas perawanku.

“Kenapa aku tertarik dengan kertas-kertas perawanku?” Tanya sebagian jiwaku. Aku tertawa. “Tentu. Karena mereka masih perawan. Ha ha ha..”

Cuma ada satu awan gelap yang menggantung dalam hidupku. Aku merasa disisihkan dari yang lain. Perubahan suasana hatiku bisa begitu tiba-tiba, dalam sekejap aku bisa berubah dari luar biasa bahagia menjadi merasa sangat menderita. Aku terkadang sama sekali tak bisa mengontrol emosiku.

Kertas-kertas perawanku lah satunya-satunya benda dengan siapa aku bisa mendiskusikan masalahku. Mereka punya solusi untuk semua masalah, dan biasanya solusinya: “Ayo kita keluar dan bersenang-senang!”

Topik favorit kertas-kertas perawanku dan aku adalah tentang diriku. “Lihat tuh si Sok Suci,” kata kertas-kertas perawan menghina. “Ia adalah si ayam beku.”
Aku mengangguk. “Ia kampungan sekali. Harus ada yang mengajarinya tertawa.” Kertas-kertas perawan mendengus, “Harus ada yang mengajarinya bercinta. Ha.. ha.. ha..” Dan aku pun ikut tertawa bersama kertas-kertas perawanku.


Sekali dalam seminggu, biasanya aku pergi ke mall bersama Jeniver teman satu kampusku dulu. Kami berhenti di depan toko pakaian. Jenifer mengagumi gaun yang terpajang di etalase, “Bagus,ya?”
“Cantik.” Sahutku. Lalu kata hatiku kemudian, “Itu gaun paling buruk yang pernah kulihat. Cocok untukmu.”

Suatu malam, aku makan malam dengan Amanda, teman satu kantor. “Aku benar-benar senang bersamamu, Yunus. Bagaimana kalau kita lebih sering lagi keluar bersama?”
Aku tersenyum malu-malu. “Baiklah.” Dan aku berpikir, sudah jelek,bego lagi. Mungkin kita bisa jalan bersama kembali di kehidupan lain, goblok. Dan lagi-lagi aku kaget sendiri. Kenapa sih aku ini? Dan aku tak punya jawaban.

To be continue……

BAIT TERAKHIR RAMALAN JAYABAYA

Published by AKU SI MELANKOLIS SEMPURNAKAH? under on 03.10
160.
sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa,

ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener,
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange,
bethara surya njumedhul,
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur,
iku tandane putra Bethara Indra wus katon,
tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa,
sebelumnya ada pertanda bintang pari,


panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur,lamanya tujuh malam,hilangnya menjelang pagi sekali,bersama munculnya Batara Surya,bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut,itulah tanda putra Batara Indra sudah Nampak,datang di bumi untuk membantu orang Jawa,

161.
dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan,

wetane bengawan banyu,
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca,
arupa pagupon dara tundha tiga,
kaya manungsa angleledha,

asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur,sebelah timurnya bengawan,berumah seperti Raden Gatotkaca,berupa rumah merpati susun tiga,seperti manusia yang menggoda,

162.
akeh wong dicakot lemut mati,

akeh wong dicakot semut sirna,
akeh swara aneh tanpa rupa,
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis,
tan kasat mata, tan arupa,
sing madhegani putrane Bethara Indra,
agegaman trisula wedha,
momongane padha dadi nayaka perang,
perange tanpa bala,
sakti mandraguna tanpa aji-aji,

banyak orang digigit nyamuk mati ,banyak orang digigit semut mati,banyak suara aneh tanpa rupa,pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar,tak kelihatan, tak berbentuk,yang memimpin adalah putra Batara Indra,bersenjatakan trisula wedha,para asuhannya menjadi perwira perang,jika berperang tanpa pasukan,sakti mandraguna tanpa azimat,

163.
apeparap pangeraning prang,

tan pokro anggoning nyandhang,
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang,
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang,

bergelar pangeran perang,kelihatan berpakaian kurang pantas,namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak,yang menyembah arca terlentang,cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan,

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu,

hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti,
mumpuni sakabehing laku,
nugel tanah Jawa kaping pindho,
ngerahake jin setan,
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo,
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda,
landhepe triniji suci,bener, jejeg, jujur,kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong,

putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu,yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti,menguasai seluruh ajaran (ngelmu),memotong tanah Jawa kedua kali,mengerahkan jin dan setan,seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu,membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda,tajamnya tritunggal nan suci,benar, lurus, jujur,didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong,

165.
pendhak Sura nguntapa kumara,

kang wus katon nembus dosane,
kadhepake ngarsaning sang kuasa,
isih timur kaceluk wong tuwa,
paringane Gatotkaca sayuta,

tiap bulan Sura sambutlah kumara,yang sudah tampak menebus dosa,dihadapan sang Maha Kuasa,masih muda sudah dipanggil orang tua,warisannya Gatotkaca sejuta,

166.
idune idu geni,

sabdane malati,
sing mbregendhul mesti mati,
ora tuwo, enom padha dene bayi,
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada,
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira,
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa,
nanging inung pilih-pilih sapa,

ludahnya ludah api,sabdanya sakti (terbukti),yang membantah pasti mati,orang tua, muda maupun bayi,orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi,garis sabdanya tidak akan lama,beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya,tidak mau dihormati orang se tanah Jawa,tetapi hanya memilih beberapa saja,

167.
waskita pindha dewa,

bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira,
pindha lahir bareng sadina,
ora bisa diapusi marga bisa maca ati,wasis, wegig, waskita,
ngerti sakdurunge winarah,
bisa pirsa mbah-mbahira,angawuningani jantraning zaman Jawa,
ngerti garise siji-sijining umat,
Tan kewran sasuruping zaman,

pandai meramal seperti dewa,dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda,seolah-olah lahir di waktu yang sama,tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati,bijak, cermat dan sakti,mengerti sebelum sesuatu terjadi,mengetahui leluhur anda,memahami putaran roda zaman Jawa,mengerti garis hidup setiap umat,tidak khawatir tertelan zaman,

168.
mula den upadinen sinatriya iku,

wus tan abapa, tan bibi, lola,
awus aputus weda Jawa,
mung angandelake trisula,
landheping trisula pucuk,
gegawe pati utawa utang nyawa,
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan,
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda,

oleh sebab itu carilah satria itu,yatim piatu, tak bersanak saudara,sudah lulus weda Jawa,hanya berpedoman trisula,ujung trisulanya sangat tajam,membawa maut atau utang nyawa,yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain,yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan,

169.
sirik den wenehi,

ati malati bisa kesiku,
senenge anggodha anjejaluk cara nistha,
ngertiyo yen iku coba,
aja kaino,
ana beja-bejane sing den pundhuti,
ateges jantrane kaemong sira sebrayat,

pantang bila diberi,hati mati dapat terkena kutukan,senang menggoda dan minta secara nista,ketahuilah bahwa itu hanya ujian,jangan dihina,ada keuntungan bagi yang dimintai,artinya dilindungi anda sekeluarga,

170.
ing ngarsa Begawan,

dudu pandhita sinebut pandhita,
dudu dewa sinebut dewa,
kaya dene manungsa,
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh,
gawang-gawang terang ndrandhang,

di hadapan Begawan,bukan pendeta disebut pendeta,bukan dewa disebut dewa,namun manusia biasa,bukan kekuatan lain diterangkan jelas,bayang-bayang menjadi terang benderang,

171.
aja gumun, aja ngungun,

hiya iku putrane Bethara Indra,
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan,
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh,
hiya siji iki kang bisa paring pituduh,
marang jarwane jangka kalaningsun,
tan kena den apusi,marga bisa manjing jroning ati,
ana manungso kaiden ketemu,
uga ana jalma sing durung mangsane,
aja sirik aja gela,
iku dudu wektunira,
nganggo simbol ratu tanpa makutha,
mula sing menangi enggala den leluri,
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu,
beja-bejane anak putu,

jangan heran, jangan bingung,itulah putranya Batara Indra,yang sulung dan masih kuasa mengusir setan,turunnya air brajamusti pecah memercik,hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk,tentang arti dan makna ramalan saya,tidak bisa ditipu,karena dapat masuk ke dalam hati,ada manusia yang bisa bertemu,tapi ada manusia yang belum saatnya,jangan iri dan kecewa,itu bukan waktu anda,memakai lambang ratu tanpa mahkota,sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh,keberuntungan ada di anak cucu,

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada,

ing zaman kalabendu Jawa,
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa,
cures ludhes saka braja jelma kumara,
aja-aja kleru pandhita samusana,
larinen pandhita asenjata trisula wedha,
iku hiya pinaringaning dewa,

inilah jalan bagi yang ingat dan waspadapada zaman kalabendu Jawa,jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa,yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga,jangan keliru mencari dewa,carilah dewa bersenjata trisula wedha,itulah pemberian dewa,

173.
nglurug tanpa bala,

yen menang tan ngasorake liyan,
para kawula padha suka-suka,
marga adiling pangeran wus teka,
ratune nyembah kawula,
angagem trisula wedha,
para pandhita hiya padha muja,
hiya iku momongane kaki Sabdopalon,
sing wis adu wirang nanging kondhang,
genaha kacetha kanthi njingglang,
nora ana wong ngresula kurang,
hiya iku tandane kalabendu wis minger,
centi wektu jejering kalamukti,
andayani indering jagad raya,
padha asung bhekti,

menyerang tanpa pasukan,bila menang tak menghina yang lain,rakyat bersuka ria,karena keadilan Yang Kuasa telah tiba,raja menyembah rakyat,bersenjatakan trisula wedha,para pendeta juga pada memuja,itulah asuhannya Sabdopalon,yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur,segalanya tampak terang benderang,tak ada yang mengeluh kekurangan,itulah tanda zaman kalabendu telah usai,berganti zaman penuh kemuliaan,memperkokoh tatanan jagad raya,semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi,
 

Mengenai Saya

Foto saya
Ku cari jiwa ku namun tak kulihat,ku cari Tuhan ku namun kurasa Dia menghindari ku,ku cari Cinta ku dan kudapatkan ketiganya.... melankolissempurna@yahoo.com

PUBLISHERS EARN 76% , $5 BONUS ON ACTIVE ACCOUNTS

Lipsum

ASMAUL HUSNA

AR RAHMAAN ( Maha Pengasih ) , AR RAHIIM ( Maha Penyayang ) , AL MAALIK ( Maharaja ) , AL QUDDUUS ( Mahasuci ) , AS SALAAM ( Mahasejahtera/Pemberi Kedamaian ) , AL MU’MIN ( Penjaga Keimanan/Pemberi Keamanan ) , AL MUHAIMIN ( Maha Memelihara ) , AL ‘AZIZ ( Mahaperkasa ) , AL JABBAAR ( Maha Pemaksa ) , AL MUTAKABBIR ( Pemilik Segala Keagungan ) , AL KHAALIQ ( Maha Pencipta ) , AL BAARI’ ( Maha Mengadakan ) , AL MUSHAWWIR ( Maha Pembentuk ) , AL GHAFFAAR ( Maha Pengampun ) , AL QAHHAAR ( Maha Penakluk ) , AL WAHHAAB ( Maha Pemberi ) , AR RAZZAAQ ( Maha Pemberi Rezeki ) , AL FATTAAH ( Maha Memberi Putusan ) , AL ‘ALIIM ( Maha Mengetahui ) , AL QAABIDH ( Maha Menyempitkan ) , AL BAASITH ( Maha Melapangkan ) , AL KHAAFIDH ( Maha Merendahkan ) , AR RAAFI’ ( Maha Meninggikan ) , AL MU’IZZ ( Maha Memuliakan ) , AL MUDZILL ( Maha Menghinakan ) , AS SAMII’ ( Maha Mendengar ) , AL BASHIIR ( Maha Melihat ) , AL HAKAM ( Maha Menetapkan Hukum ) , AL ‘ADL ( Maha Adil ) , AL LATHIIF ( Maha Lembut ) , AL KHABIIR ( Maha Mengetahui ) , Al HALIIM ( Mahasabar/Maha Penyantun ) , AL ‘AZHIIM ( Maha Agung ) , AL GHAFUUR ( Maha Pengampun ) , ASY SYUKUUR ( Maha Menghargai ) , AL ‘ALIYY ( Maha Tinggi ) , AL KABIIR ( Maha Besar ) , AL HAFIIZH ( Maha Memelihara ) , AL MUQIIT ( Maha Menjaga ) , AL JALIIL ( Maha Luhur ) , AL HASIIB ( Maha Penghisab ) , AL KARIIM (Maha Pemurah ) , AR RAQIIB ( Maha Mengawasi ) , AL MUJIIB ( Maha Mengabulkan ) , AL WAASI’ ( Maha Meliputi/ Maha Luas ) , AL HAKIIM ( Mahabijaksana ) , AL WADUUD ( Maha Mencintai ) , AL MAJIID ( Mahamulia ) , AL BAA’ITS ( Maha Membangkitkan ) , ASY SYAHIID ( Maha Menyaksikan ) , AL HAQQ ( Maha Benar ) , AL WAKIIL ( Maha Mewakili ) , AL QAWIYY ( Maha Kuat ) , AL MATIIN ( Maha Kokoh ) , AL WALIYY ( Maha Pelindung ) , AL HAMIID ( Maha Terpuji ) , AL MUHSHII ( Maha Menghitung ) , AL MUBDI’ ( Maha Memulai ) , Al MU’IID ( Maha Mengembalikan ) , AL MUHYII ( Maha Pemberi Kehidupan ) , AL MUMIIT ( Maha Mematikan ), AL HAYY ( Maha Hidup ) , AL QAYYUUM ( Mahamandiri/Maha Berdiri Sendiri ) , AL WAAJID ( Maha Mendapatkan Segala Sesuatu ) , AL MAAJID ( Maha Mulia ) , AL WAAHID ( Maha Tunggal ) , AL AHAD ( Maha Esa ) , ASH SHAMAD ( Maha Dibutuhkan ) , AL QAADIR ( Mama Mampu ) , AL MUQTADIR ( Maha Berkuasa ) , AL MUQADDIM ( Maha Mempercepat ) , AL MU’AKHKHIR ( Maha Menunda ) , AL AWWAL ( Maha Awal ) , AL AAKHIR ( Maha Akhir ) , AZH ZHAAHIR ( Maha Nyata ) , AL BAATHIN ( Maha Tersembunyi ) , AL WAALII ( Maha Memerintah ) , AL MUTA’AALII ( Maha Tinggi ) , AL BARR ( Sumber Segala Kebaikan ) , AT TAWWAAB ( Maha Penerima Tobat ) , Al MUNTAQIM ( Maha Penuntut Balas ) , AL ‘AFUWW ( Maha Pemaaf ) , AR RA’UUF ( Maha Belas Kasih ) , MAALIKUL-MULK ( Maha Memiliki Kerajaan Yang Abadi ) , DZUUL JALAALI WAL_IKRAAM ( Maha Memiliki Kebesaran Dan Kemuliaan ) , AL MUQSITH ( Mahapatut/Mahaadil ) , Al JAAMI ( Maha Menghimpun ) , Al GHANIYY ( Maha Kaya ) , AL MUGHNII ( Maha Pemberi Kekayaan ) , AL MAANI’ ( Maha Pencegah ) , ADH DHAARR ( Maha Pemberi Kesukaran ) , AN NAAFI’ ( Maha Pemberi Manfaat ) , AN NUUR ( Maha Pemberi Cahaya ) , AL HAADII ( Maha Pemberi Petunjuk ) , AL BADII’ ( Maha Pencipta Hal Baru ) , AL BAAQII ( Maha Kekal ) , AL WAARITSU ( Maha Mewarisi ) , AR RASYIID ( Maha Pemberi Petunjuk Ke Jalan Yang Benar ) , ASH SHABUUR ( Maha Sabar ) .

Followers